hero

Kecanggihan Masa Lalu di Rumah Air Surabaya Tempat Bersembunyi Tentara dan Pompa-Pompa Tua

Sumber Berita : Jawa Pos

Rumah Air Surabaya

Mengalirkan air ke Surabaya tidak mudah. Sangat sedikit sumber air di Surabaya
yang bisa dijadikan air minum. Untung, pemerintah Hindia Belanda punya seabrek
teknologi untuk mengalirkan air dari mata air sekitar Surabaya. Terutama Umbulan.
Disini, di gedung ini, jejak kecanggihan itu bersemayam
(TAUFIQURAAHMAN)

Dalam peperangan, menguasai spot persediaan air adalah hal yang amat penting.
Mungkin itu juga alasan para Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang waktu itu
 masih berusia muda memilih markas-markas ini sebagai tempat persembunyian.
Sekutu semakin dekat, pertempuran tidak terelakan.
Para pelajar membentuk beratus-ratus pertahanan.

Menjelang pertempuran, para pelajar berkumpul disekitar jalan Basuk Rahmat
mereka membentuk markas-markas pejuang dibeberapa bangunan diarea tersebut.
Ini pusatnya bisa dilihat sebagai monumen markas perjuangan.

Salah satunya gedung milik Perusahaan Daerah Air Minum
(PDAM) Surya Sembada Kota Surabaya.
Letaknya ditimur jalan. Tepat didepan Hotel Bumi Surabaya.
Gedung berlantai 2 itu masih belum bisa diakses masyarakat umum.
Beberapa Instalasi penting PDAM Surabaya ada didalamnya.

Beberapa truk tangki pun berpangkalan didepan gedung. Namun keberadaannya
langsung dikenal melalui tetenger berupa batu keramik hitam didepan gedung.
Bertuliskan pernyataan bahwa bangunan tersebut satu bangunan cagar budaya (BCB).
Nama yang tertulis adalah Rumah Air Surabaya.

Menurut Adi Setiawan, ketua komunitas Roodeburg Surabaya,
sekitar Basuki Rahmat memang ditempati para pejuang TKR
Tempat persembunyian utama salah satunya Rumah Air tersebut.
“Dulu ada juga bangunan gedung SD, itu tempat dapur umum,” katanya.

PDAM memang mempersiapkan gedung tersebut sebagai museum teknologi pengolahan air,
wisata edukasi air, sekaligus pembelajaran sejarah. Namun, sengketa terhadap
kepemilikan gedung membuta wacana itu belum terselesaikan.

PDAM masih berusaha menahan diri. “Rencananya memang kami buka sebagai wisata,
tapi entah kapan. Masih polemik,” Ujar Ari Bimo Sakti, Manger humas dan sekretariat PDAM Surabaya.
Areal dalam gedung memang sedikit gelap.

Bimo, sapaan Ari Bimo Sakti, menceritakan bahwa PDAM menyimpan beberapa piranti canggih
di dalam gedung. Sejak 2 tahun lalu PDAM bekerja mengumpulkan relik-relik teknologi air,
lalu, dikumpulkan di situ. Paling banyak peninggalan Belanda.

Ada beberapa pompa legendrais yang jadi koleksi. Mereka pada masa jayanya beroperasi di Gempol,
Karangpilang serta Umbulan. Satu yang paling besar memang diangkut dari rumah pompa PDAM
disamping kolam mata air Umbulan, Winongan, Pasuruan. “Semuanya pompa jaman Belanda,” ungkap Bimo.

Pompa tidak lengkap kalau tidak ada pipa. Berjulur-julur pipa juga di simpan di gedung tersebut.
Mulai pipa primer berdiameter 10 meter sampai yang paling kecil.
Selain pipa dan pompa, peraltan pendukung lain ada ditempat tersebut.
"Ada pipa, meter, serta alat patri (penyambung pipa, Red),”Jelasnya.

Petugas patri zaman dulu harus punya skill khusus. Sebab, mereka merupakan
tumpuan dan harapan ketika ada pipa yang pecah atau bocor. Alatnya pun juga
tidak secanggih alat las elektrik yang ada sekarang. Tidak ada kabel dan stang las.
Apalagi elektroda.”dulu stangnya pakai alat pemanas khusus,
ada knop yang diputar-putar terus terus agar panas, “ Ungkapnya.
Secara umum, gedung tersebut sudah siap untuk menjadi sebuah “ museum air”.
 
Selain alat-alat peninggalan belanda, ada berbagai diorama yang menggambarkan
susahnya mengalirkan air hingga bisa kita minum.

Kemarin, sudah ada keputusan dari PN Surabaya yang mengatakan bahwa
gedung tersebut bukan lagi milik pemkot. Karna itu,
perjuangan menjadikannya museum bisa jadi semakin berliku.(*/c15/dos)